Pada hari Selasa, 28 Jumadil Ula
1434 H (9/4/2013) datang kabar yang mengejutkan dunia. Bemula
dari posting user yang bernama Abu Abdillah Al-Janubi dalam forum
jihad Ansharul Mujahidin (www.as-ansar.com) yang mengunggah
pernyataan Pemimpin Daulah Islam Irak (ISI) Amirul Mukminin Abu
Bakar Al-Baghdadi Al-Husaini Al-Qurasyi. Posting tersebut juga dirilis
oleh Yayasan Media Al-Furqan—sayap media Daulah Islam Irak—yang
bekerja sama dengan Al-Fajr Media Center. Pesan audio berdurasi
21 menit 26 detik itu diberi prolog “Dan berilah kabar gembira kaum
muslimin” dan memiliki judul besar “Deklarasi Daulah Islamiyah Irak
dan Syam”.
“Kami sampaikan kabar
gembira kepada umat Islam setelah rentetan peristiwa, di mana kami
hidup di dalamnya. Saya katakan, seraya memohon pertolongan
kepada Allah Ta’ala, sesungguhnya peningkatan dari level bawah
menuju ke level atas adalah termasuk bentuk pemuliaan Allah kepada
jamaahjamaah jihad. Hal tersebut menunjukkan keberkahan amal-amal
mereka, sebagaimana kemunduran dan stagnasi adalah bukti keburukan.
Kami berlindung kapada Allah darinya.”
Demikian
penuturan Amir Abu Bakar Al-Baghdadi dalam kalimat pembukaannya.
Selanjutnya Al-Baghdadi menceritakan kembali secara singkat tentang
awal-awal perjuangan mujahidin dan rentetan kronologi jamaah-jamaah
jihad di Irak
Dalam ceramah tersebut,
Al-Baghdadi menceritakan bahwa pada masa awal perjuangan di
Irakmujahidin berkelompok-kelompok.Akhirnyamuncul sosok Abu Mush’ab
Az-Zarqawi yang mencoba menyatukan mereka di bawah panji Jama’ah
At-Tauhid wa Al-Jihad.
“Kemudian
Syekh Abu Mush’ab Az-Zarqawi mengulurkan tangannya kepada jamaah-jamaah
yang berada di medan jihad yang berada di atas akidah Ahlussunnah wal
Jama’ah. Beliau memberikan syarat kepada mereka untuk bersatu tidak
meninggalkan senjata bagaimanapun tekanan pemerintah thaghut sampai
Allah menentukan di antara kami, menang atau syahid.”
Jadi,Az-Zarqawi menyeru kepada pemimpin-pemimpin gerakan perlawanan untuk bersatu. Mereka pun bersatu dengan nama baru Majlis Syura Mujahidin
dan Al-Qa’idah setempat pun melebur dalam nama tersebut.Kemudian nama
itu berubah menjadi Tanzhim Al-Qa’idah fi Bilad Ar-Rafidain setelah
Az-Zarqawi membaiat Usamah bin Ladin sebagai bagian dari Tanzhim Al-Qa’idah yang kontrol pusatnya diperkirakan berada di Pakistan dan Afghanistan.
Setelah
Abu Mush’ab Az-Zarqawi gugur, komando perjuangan dilanjutkan oleh Abu
Umar Al-Husaini Al-Baghdadi dan Abu Hamzah Al-Muhajir Asy-Syamiyang
kemudian mendeklarasikan Daulah Islam Irakpada 15 Oktober 2006.
“Sesungguhnya,
rambu-rambu yang telah diletakkan oleh Syekh Abu Mush’ab, kini terus
dilalui oleh orang-orang sesudahnya. Kami pun atas izin Allah berjalan
di atas jejaknya.”
Demikian Abu
Bakar Al-Baghdadi melanjutkan. Ia juga menjelaskan bahwa para komandan
jihad telah merancang jalan yang akan dilalui para mujahidin setelahnya.
Di Irak mereka membangun Daulah Islam Irak, sedangkan di Syam mereka
membentuk sel-sel kecil yang membatasi aktivitasnya pada i’dad dan
memonitori perkembangan selanjutnya.
“Adapun
di negeri Syam, mereka telah membentuk sel-sel jihad yang baru sebatas
pada operasi i’dad dan bantuan jihad, sambil menunggu-nunggu kesempatan
mencapai pendakian lebih tinggi yang harus terus berjalan.”
Proyek Jihad di Negeri Syam
Lebih
lanjut, Abu Bakar Al-Baghdadi juga menjelaskan hakikat keterkaitan
Jabhah An-Nushrah sebagai kepanjangan tangan Daulah Islam Irak.Ia
mengatakan:
“Ketika kondisi kaum
muslimin di negeri Syam telah sampai pada keadaan penumpahan darah,
penodaan kehormatan (oleh rezim Nushairiyah Suriah), penduduk Syam
meminta bantuan mereka sementara masyarakat internasional berlepas diri
dari mereka, maka tiada pilihan bagi kami kecuali bangkit untuk menolong
mereka.
Maka kami mengutus
(Abu Muhammad) Al-Jaulani, dan dia adalah salah seorang tentara kami
dan bersamanya sejumlah orang dari putra-putra kami. Kami berangkatkan
mereka dari Irak menuju Syam untuk bertemu dengan sel-sel jihad kami di
negeri Syam.
Kami
merumuskan bagi mereka perencanaan-perencanaan dan kami tetapkan untuk
mereka pengendalian operasi (siyasat al-’amal), dan kami biayai mereka
dari setengah harta baitul mal kaum muslimin (Daulah Islam Irak), dan
kami dukung mereka dengan personil-personil yang telah matang di
medan-medan jihad dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Maka
mereka berjuang dengan sungguh-sungguh bersama-sama para penduduk
negeri Syam yang bersemangat membela rakyat dan agamanya. Maka kekuasaan
Daulah Islam Irak semakin meluas ke negeri Syam. Pada saat itu kami
tidak mengumumkannya karena faktor-faktor keamanan, dan agar rakyat bisa
melihat hakikat dari Daulah (Islam Irak), hakikat sebenarnya yang jauh
dari pencitraan buruk dan kebohongan oleh media massa.”
“Maka,
ketika kondisi di Syam (Suriah) telah mencapai puncak berupa penumpahan
darah dan penodaan kehormatan muslimah serta penduduk dunia yang
terlambat menolong mereka,maka tidak ada pilihan lain bagi kami
melainkan cinta untuk menolong mereka. Kami pun menugaskan Al-Jaulani
(Abu Muhammad Al-Jaulani, Amir Jabhah An-Nushrah), dan dia adalah salah
seorang prajurit Daulah Islam Irak. Dia bersama sekelompok
putra-putrakami.
Kami kirim
mereka untuk menemui sel kami di Syam. Kami berikan mereka skema dan
juga program kerja. Kami berikan pula mereka bantuan prajurit-prajurit
yang cinta medan juang, dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka
berbaur dengan rakyat Suriah. Jabhah An-Nushrah itu sendiri tidak lain
adalah perpanjangan tangan dari Daulah Islam Irak dan (hanya) bagian
kecil dari Daulah Islam Irak. Mereka menderita apa yang kami derita.
Oleh karena itu, kami umumkan, seraya bertawakal kepada Allah, penghapusan nama Daulah Islam Irak dan Jabhah An-Nushrah, kemudian berkumpul dalam satu nama, yaitu Daulah Islamiyah di Irak dan Syam.”
Para
pemimpin Daulah Islam Irak melalui kajian amir, ulama, dan komandannya
memandang sudah saatnya dideklarasikan Daulah Islam di Irak dan Syam.
Karena Jabhah An-Nushrah lahir dari “rahim” Daulah Islam Irak, maka
Daulah Islam yang menetapkan keputusan tersebut dan Jabhah An-Nushrah
“tinggal” sami’na wa atha’na saja. Abu Bakar Al-Baghdadi menyatakan hal tersebut dalam pesan audionya:
“Kami
telah membulatkan tekad, setelah beristikharah kepada Allah Ta’ala dan
bermusyawarah dengan orang-orang yang kami percayai agama dan
kebijaksanaan mereka, untuk terus melanjutkan perjalanan menanjak jamaah
ini, dan tidak mempedulikan apapun celaan yang akan ditujukan kepada
kami, karena sesungguhnya ridha Allah di atas segala-galanya, apapun
yang akan menimpa kami karena hal itu.
Maka
dengan ini kami meniadakan nama Daulah Islam Irak dan meniadakan nama
Jabhah Nushrah, dan kami menggabungkan keduanya dalam satu nama baru: Daulah Islam Irak dan Syam. Demikian pula kami mengumumkan penyatuan bendera, bendera Daulah Islam, bendera Khilafah Islamiyah, insyaallah.
Dengan
adanya pengumuman ini, maka nama Daulah Islam Irak dan nama Jabhah
An-Nushrah akan menghilang serta tidak muncul lagi dalam
interaksi-interaksi kami. Keduanya akan menjadi bagian dari sejarah
jihad kami yang penuh berkah, seperti nama-nama lain yang telah
mendahuluinya.”
Respons Amir Jabhah An-Nushrah Soal Deklarasi Daulah Islam Irak dan Syam
Sehari kemudian, Rabu 29 Jumadil Ula 1434 H (10/4/2013 M), forum jihad Ansharul Mujahidin mengunggah
sebuah rekaman audio yang diproduksi oleh Yayasan Media Al-Manarah
al-Baidha’—sayap media Jabhah An-Nushrah—yang berisi pesan dari Pemimpin
Jabhah An-Nushrah Abu Muhammad Al-Jaulani. Dalam pesan audio berjudul “Seputar Kondisi Medan Syam”
dan berdurasi 7 menit 15 detik tersebut, Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani
menyampaikan sejumlah klarifikasi. Intinya berupa tanggapan
atasDeklarasi Daulah Islam Irak dan Syam oleh Amir Abu Bakar
Al-Baghdadi.
Klarifikasi yang hanya
berjarak satu hari setelah itu tak kalahmengejutkan. Selain menyatakan
tidak adanya “pemberitahuan terlebih dahulu” dan “tidak ada musyawarah
dan pemberian perintah” dari amir Daulah Islam Irak dalam perkara
pengumuman berdirinya Daulah Islam di Irak dan Syam, Pemimpin Jabhah
An-Nushrah justru mengumumkan secara resmi pembaiatan mereka kepada
Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri dan Tanzhim Qa’idatul Jihad (Al-Qaidah).
Pada
bagian awal pesan audionya, Abu Muhammad Al-Jaulani menegaskan
sekaligus membenarkan keterkaitan erat Jabhah An-Nushrah dengan Daulah
Islam Irak.
“Setelah tersingkap
beberapa dokumen bahwa kami turut serta dalam jihad Irak sejak awal
dimulai jihad sampai saat kami kembali (ke Suriah) setelah revolusi
Suriah, meskipun terjadi keterputusan (komunikasi dengan mujahidin
Irak—edt) karena takdir tersebut, namun kami telah mengetahui sebagian
besar rincian peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan jihad di Irak
dan dari pengalaman jihad di Irak itulah kami merangkum hal-hal yang
membahagiakan hati kaum mukminin di negeri Syam di bawah bendera Jabhah
An-Nushrah li Ahl Asy-Syam (Front Pertolongan bagi Penduduk Syam).”
Selanjutnya,Amir
Jabhah An-Nushrah menegaskan bahwa ia tidak tahu-menahu soal
penghapusan nama Jabhah An-Nushrah dan Daulah Islam Irak kemudian
diganti dengan Daulah Islam Irak dan Syam.
“Kami
beritahukan bahwa Jabhah An-Nushrah, Majelis Syuranya, dan hamba yang
fakir ini (Abu Muhammad Al-Jaulani), pemimpin umum Jabhah An-Nushrah,
tidak mengetahui deklarasi ini selain dari mendengarkan via media. Jika
pidato yang dinisbatkan itu benar maka sesungguhnya kami tidak dimintai
konsultasi.”
Al-Jaulani juga
mengatakan, ia mempunyai utang kebaikan yang senantiasa melilit lehernya
kepada mujahidin Irak yang berakhlak baik.
“Allah
telah mengetahui bahwa kami tidak melihat dari saudara-saudara kami di
Irak selain kebaikan yang besar, berupa kedermawanan, pengorbanan dan
menampung kami dengan baik. Kebaikan mereka kepada kami sangat banyak
dan tidak bisa dihitung. Hal itu merupakan hutang yang tidak akan pernah
bisa berpisah dari pundak kami selama kami masih hidup.”
Bahkan,Al-Jaulani
sempat bertekad hanya akan kembali ke Suriah setelah melihat panji
Daulah Islam menjulang tinggi di Negeri Dua Sungai (Irak).
“Tidaklah
saya ingin keluar dari Irak sebelum saya melihat panji-panji Islam
berkibar-kibar tinggi di negeri dua aliran sungai (Irak). Namun
peristiwa-peristiwa yang begitu cepat terjadi di negeri Syam menghalangi
kami dari apa yang kami inginkan.”
Namun,
kondisi Suriah menuntutnya untuk kembali ke sana. Al-Jaulani pun
bertemu dengan Al-Baghdadi kemudian bersepakat untuk proyek jihad di
sana, dan Daulah Islam Irak akan memberikan support-nya.
Abu
Muhammad Al-Jaulani dengan kerendahan hati mengakui “telah mendapat
kemuliaan” untuk bergaul dengan banyak ulama, komandan dan tentara
Daulah Islam Irak. Beliau menyebutkan mereka sebagai orang-orang saleh
dan hampir sebagian besar ulama dan komandan yang ia temui saat ini
telah gugur.
“Saya telah mendapat
kemuliaan untuk bergaul dengan sejumlah orang yang saleh di negeri
Irak, kami menyangka demikian terhadap mereka. Dan kami telah berpisah
dengan banyak mereka, di mana hampir tidak ada seorang pun yang namanya
disebutkan kepadaku kecuali saat ini telah gugur, semoga Allah menerima
mereka. Belum lagi puluhan, bahkan ratusan muhajirin dari Syam dan
negeri lainnya yang gugur, sebagai tebusan bagi meninggikan kalimat
Allah di bawah bendera Daulah Islam Irak.”
Kemungkinan
nama-nama yang dimaksud meliputi Abu Mush’ab Az-Zarqawi, Abu Umar
Al-Baghdadi, Abu Hamzah Al-Muhajir, Abu Thalhah Al-Anshari, Abu Maisarah
Al-Gharib, ataubeberapa nama lainnya. Kemudian Abu Muhammad Al-Jaulani
melanjutkan keterangannya:
“Kemudian
Allah memuliakan saya untuk berkenalan dengan Syaikh (Abu Bakar)
al-Baghdadi, ulama yang mulia, yang memenuhi hak (mujahidin) penduduk
Syam dan mengembalikan hutang dengan jumlah yang berlipat ganda.
Beliau
telah menyetujui sebuah program yang kami usulkan kepada beliau untuk
menolong rakyat kami yang tertindas di negeri Syam. Kemudian beliau
mengirimkan kepada kami setengah harta Daulah Islam Irak, meskipun
mereka sendiri sedang menghadapi masa-masa kesulitan.
Kemudian
beliau meletakkan kepercayaannya kepada hamba yang fakir ini, dan
memberikan kepada hamba yang fakir ini tugas untuk meletakkan siasat
(strategi) dan planning, serta menyertakan sebagian ikhwah untuk
membantunya. Meskipun jumlah mereka sedikit, namun Allah memberkahi
mereka dan perkumpulan mereka.
Maka
Jabhah An-Nushrah mulai menghadapi kesulitan demi kesulitan, sedikit
demi sedikit, sampai Allah mengaruniakan kemenangan-kemenangan kepada
kami dan meninggikan panji-panji Jabhah An-Nushrah, sehingga hati kaum
muslimin dan kaum yang tertindas ikut terangkat naik. Maka Jabhah
An-Nushrah menjadi simbol pertempuran umat Islam hari ini di negeri ini
dan menjadi gantungan harapan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia.”
Jabhah
An-Nushrah sebagai kelompok jihad yang telah bergaul luas dengan
seluruh elemen masyarakat muslim Suriah dan berkoordinasi dengan
sebagian besar kelompok jihad Islam, kelompok jihad FSA (Free Syria
Army), dan kelompok jihad muhajirin dari luar negeri memiliki pandangan
lain.Meskipun tujuan Jabhah An-Nushrah untuk menegakkan syariat, pada
mulanya mereka tidak ingin terburu-buru mendeklarasikan daulah.
a.
Daulah Islam di Syam (Suriah) bukan hanya dideklarasikan oleh Jabhah
An-Nushrah semata, atau bahkan atas “keputusan dan perintah” Daulah
Islam Irak semata. Daulah Islam di Syam perlu didirikan atas dukungan
dan kerja sama dengan semua unsur politik revolusi rakyat
(kelompok-kelompok jihad Islam dan kelompok-kelompok jihad FSA) beserta
para ulama Ahlussunnah yang jujur dan setia dalam perjuangan menegakkan
Islam di Suriah. Para ulama, amir dan komandan kelompok-kelompok jihad
di Suriah inilah yang menjadi Ahlul Halli wal ‘Aqddi Suriah.
b.
Meskipun Daulah Islam belum dideklarasikan oleh Jabhah An-Nushrah dan
kelompok-kelompok jihad lainnya di Suriah, namun mujahidin dan para
ulama Ahlussunnah di Suriah telah berhasil menjalankan fungsi-fungsi
Daulah Islam di wilayah-wilayah Suriah yang telah mereka bebaskan dari
kekuasaan rezim Nushairiyah Suriah. Dalam hal ini, Jabhah An-Nushrah dan
kelompok-kelompok jihad lainnya di Suriah memandang substansi dan fungsi Daulah Islam
lebih penting di Suriah daripada deklarasi dan nama resminya.Mengingat
kondisi Suriah berbeda, dan kelompok-kelompok jihad serta ulama-ulama di
sana memiliki perbedaan, demikian pula kaum muslimin.
“Sejak
awal kami telah mengumumkan untuk mengembalikan kekuasaan Allah di muka
bumi, kemudian bangkit bersama umat Islam untuk menerapkan syariat-Nya
dan menyebar luaskan manhaj-Nya. Kami tidak akan tergesa-gesa
mengumumkan suatu perkara yang menurut kami menuntut kehati-hatian.
Sebab tugas-tugas daulah yaitu menerapkan syariat, menyelesaikan
perselisihan dan permusuhan, merealisasikan keamanan bagi kaum muslimin
dan menjamin penyediaan kebutuhan-kebutuhan pokok hidup mereka telah
berjalan di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, meskipun di sana-sini
masih ada kekurangan.
Perkara
pengumuman (berdirinya daulah Islam) tidak menjadi menjadi perhatian
utama dalam kondisi telah teraihnya inti persoalan (terlaksanakannnya
sebagian tugas-tugas utama daulah Islam, edt). Kemudian, daulah Islam di
Syam dibangun di atas lengan-lengan (peranan) semua pihak tanpa
menyingkirkan satu pihak politis manapun yang ikut bersama dengan kami
dalam jihad dan peperangan di negeri Syam, yaitu para kelompok-kelompok
jihad, para ulama kredibel dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, dan
para saudara kita kaum muhajirin. Apalagi dengan menyingkirkan
pimpinan-pimpinan Jabhah An-Nushrah dan majelis syuranya.
Demikian
pula, perkara menunda pengumuman keterkaitan (Jabhah An-Nushrah dengan
Daulah Islam Irak) bukanlah karena kelemahan dalam menjalankan agama
atau kepengecutan para anggota Jabhah An-Nushrah,melainkan untuk sebuah
kebijaksanaan yang cemerlang berdasar dasar-dasar syariat, sejarah yang
panjang, dan mencurahkan kemampuan untuk memahami siyasah syar’iyah yang
sesuai dengan negeri Syam dan disepakati oleh Ahlul Halli wal ‘Aqd di
negeri Syam dari kalangan pimpinan Jabhah An-Nushrah dan
“santri-santri”nya, lalu para pimpinan kelompok-kelompok jihad lainnya
dan “santri-santri” mereka, kemudian orang-orang yang menolong mereka
dari kalangan para ulama yang mulia, pemikir, dan orang-orang bijak dari
luar negeri Syam.”
Meski Jabhah An-Nushrah tampak berbeda pendapat dengan Daulah Islam Irak dalam hal waktu, proses, dan Ahlul Halli wal ‘Aqd
yang berhak mendeklarasikan Daulah Islam di Syam; bukan berarti Jabhah
An-Nushrah berkhianat Daulah Islam Irak, melepaskan diri dari kaitan
erat dengan kepada Daulah Islam Irak dan tidak menjalin koordinasi jihad
dengan Daulah Islam Irak. Al-Jaulani menyatakan tetap memenuhi seruan
Abu Bakar Al-Baghdadi untuk meningkatkan diri. Jabhah An-Nushrah juga
menegaskan kesetiaan, koordinasi, dan kerja sama dalam jihad dengan
Daulah Islam Irak.
“Saya memenuhi
seruan Syaikh Al-Baghdadi—semoga Allah menjaganya—untuk meraih
peningkatkan dari kedudukan yang lebih rendah kepada kedudukan yang
lebih tinggi.”
Adapun untuk identitas, panji Jabhah An-Nushrah sementara tetap berkibar dan tidak diubah.
“Maka
panji Jabhah An-Nushrah akan tetap seperti semula, tidak ada perubahan
apapun, meskipun kami juga merasa bangga dengan panji Daulah (Islam
Irak), orang yang membawanya, orang yang berkorban dan mempersembahkan
darahnya untuknya dari kalangan saudara-saudara kami (mujahidin di Irak)
di bawah benderanya.”
Kemudian
di akhir pernyataannya, secara mengejutkan Abu Muhammad Al-Jaulani
mendeklarasikan baiat Jabhah An-Nushrah kepada Aiman az-Zhawahiri selaku
Amir Tanzhim Qa’idatul Jihad alias Al-QaidahPusat. Abu Muhammad
Al-Jaulani dan segenapanggota Jabhah An-Nushrah menegaskan baiatnya
untuk tetap mendengar dan taat di atas hijrah dan jihad.
“Dan
saya katakan: Inilah baiat dari putra-putra Jabhah An-Nushrah dan
pemimpin umumnya.Kami memperbarui baiat tersebut untuk Syaikhul Jihad,
Syekh Aiman Azh-Zhawahiri—semoga Allah menjaganya. Sesungguhnya, kami
membaiat beliau untuk mendengar dan menaati, baik dalam kondisi rajin
maupun dalam kondisi terpaksa, (juga membaiat beliau untuk) berhijrah,
berjihad, dan tidak merampas urusan kepemimpinan dari pemimpin yang sah,
kecuali jika kami melihat pada diri pemimpin tersebut kekafiran yang
nyata berdasar penjelasan (syariat) Allah.”
Jabhah
An-Nushrah setelah berbaiat dengan Al-Qaidah akan tetap seperti Jabhah
An-Nushrah sebelum berbai’at dengan Al-Qaidah. Sebab, mujahidin
Al-Qaidah sejatinya adalah satu bagian kecil dari seluruh unsur dalam
tubuh kaum muslimin. Bahkan, Al-Qaidah lahir dari rahim umat Islam dan
akan senantiasa “berbakti” dan menjadi “pelayan” untuk kemaslahatan umat
Islam.
“Kami menenangkan rakyat
kami di negeri Syam bahwa apa yang selama ini telah kalian lihat dari
Jabhah An-Nushrah, yaitu pembelaannya terhadap agama kalian, kehormatan
kalian, nyawa kalian, dan juga kemuliaan akhlaknya terhadap kalian.
Adapun terhadap kelompok-kelompok jihad lainnya akan tetap seperti sedia
kala seperti yang selama ini telah kalian kenal. Dan sesungguhnya
pengumuman pembaiatan tidak akan mengubah apapun dari siyasah
(kebijakan) Jabhah An-Nushrah.“
Spekulasi tentang Perpecahan ISI & JN
Dua
pernyataan yang berbeda tersebut mengesankan telah terjadi perpecahan
di kalangan pemimpin jihad. Sebagian kalangan menilai pesan audio amir
Daulah Islam Irak dan pimpinan umum Jabhah An-Nushrah itu menunjukkan di
kalangan mujahidin terjadi perpecahan dan komunikasi yang buruk,
setidaknya komunikasi yang sulit. Akibatnya terjadi dua pernyataan yang
berbeda hanya dalam rentang waktu satu hari. Bagaimanakah duduk perkara
sebenarnya?
Bila diperhatikan,
kata-kata dalam pernyataan Abu Muhammad Al-Jaulani tidak menunjukkan
bahwa ia tidak setuju dengan penggabungan tersebut. Ya, ia tidak
menganggap buruk langkah itu. Hal ini ditunjukkan Al-Jaulani dalam
pernyataannya yang baik, di mana ia memuji Abu Bakar Al-Baghdadi,
menyebutkan keutamaannya, serta keutamaan Daulah Islam Irak dibandingkan
dengan Jabhah An-Nushrah.
Dalam hal
ini, Al-Baghdadi berpikir bahwa deklarasi Daulah Islam Irak dan Syam
sebagai wadah perjuangan perlu dipercepat, khawatir bila buah jihad yang
diberkati di Suriah justru dipetik oleh orang lain.Namun, adakalanya
pandangan di lapangan berbeda. Dalam hal ini, Al-Jaulani sedang
memfokuskan upaya menyatukan para pejuang di Suriah dalam pemahaman
Daulah Islam. Karena itulah, ia mengeluarkan pernyataan tersebut.
Penting
untuk digaris bawahi bahwa setelah pecahnya revolusi di Suriah,
beberapa tokoh di Suriah meminta mujahidin Irak yang berada di bawah
kepemimpinan Daulah Islam Irak untuk membantu perjuangan di Suriah.Untuk
itu, Abu Bakar Al-Baghdadi, selaku Amir Daulah Islam Irak, memberikan
otoritas kepada Abu Muhammad Al-Jaulani untuk pergi ke Suriah dan
membentuk sebuah front jihad.Al-Baghdadi menyetujui proyek jihad
tersebut dan memberikan dukungan dengan mengirimkan para pejuang terbaik
ke Suriah setiap bulannya untuk menyelesaikan tugas tersebut.Dua
pemimpin ini membangun visi pembentukan sebuah proyek Islam di Syam yang
bermuara pada proklamasi Negara Islam yang diatur dengan hukum Allah,
setelah pembebasan dari kekuasaan Basyar Al-Asad dan partainya.
Di
lapangan, Al-Jaulani memulai misinya dengan membentuk Jabhah An-Nushrah
dan mengumpulkan orang-orang paling berbakat dan mendorong semua lini
jihad untuk fokus dalam pembentukan kader-kader mujahid di kalangan
generasi Suriah.Jabhah An-Nushrah pun menunjukkan prestasi yang luar
biasa.Dengan bantuan saudara-saudara mereka di batalion jihad lainnya
mulai mengendalikan kota dan provinsi, bandara, dan kemenangan pun
terlihat semakin dekat.Di sini Al-Baghdadi melihat bahwa deklarasi
negara yang diidam-idamkan telah mendesak waktunya. Setelah
berkonsultasi dengan banyak pihak di jajaran pemimpin Daulah Islam Irak,
ia memutuskan untuk mengumumkan negara Islam Irak dan Syam.
Pengumuman
Syekh Al-Baghdadi ini mengejutkan Abu Muhammad Al-Jaulani dan mujahidin
di bawah kepemimpinannya di Suriah. Karena, pengumuman ini dibuat pada
saat Jabhah An-Nushrah sedang mengadakan lobi dan kesepakatan dengan
front jihad lainnya terkait proyek mulia ini, tanpa pemberitahuan
sebelumnya.Karena itulah, Al-Jaulani melihat perlu memberikan
pernyataannya guna meredam suasana sampai terjadi persetujuan dari
kelompok-kelompok jihad lainnya. Kalimat-kalimatnya bertujuan untuk
mencegah kemungkinan perpecahan di Suriah.
Karena komunikasi dengan Daulah Islam Irak tidak mungkin dilakukan dengan cepat, sedangkan ada kekhawatiran terjadi fitnah
(kekacauan), maka Al-Jaulani pun menyampaikan pernyataannya
tersebut.Jadi, tampakbahwa dua petinggi mujahidin ini masih berada dalam
satu visi untuk menegakkan syariat Islam di bumi Syam.
Komentar Jurnalis Pengamat Jihad, Abdul Bari Atwan
Abdul
Bari Atwan, jurnalis senior yang pernah tidur dalam gua persembunyian
bersama Usamah bin Ladin,menulis sebuah artikel menarik dalam situs
pribadinya. Dalam tulisannya, ia memberikan beberapa poin analisis dan
pandangan terkait kemajuan yang dialami oleh Jabhah Nushrah. Berikut
terjemahan naskahnya :
Hubungan Al-Qaidah dan Al An-Nushrah di Suriah: Sebuah Perkembangan yang Signifikan
Beberapa
bulan memasuki permulaan revolusi Suriah, dua orang pemimpin Ikhwanul
Muslimin Suriah mengunjungi saya di kantor Al Quds Al Arabiyya London,
mengungkapkan kekecewaan mereka pada pernyataan yang saya buat di
televisi Inggris tentang aksi bom syahid yang menargetkan dua markas
besar keamanan di Damaskus.
Ikhwanul
Muslimin menolak pernyataan saya bahwa organisasi Al-Qaidah telah
bertanggung jawab atas serangan itu. Saya menyatakan, bahwa Al-Qaidah
telah berhasil mencapai Suriah, dan akan memainkan peran kunci dalam
konflik itu, berkat pengalaman mereka dalam perang gerilya.
Kedua
orang itu pun mengatakan bahwa mereka marah dengan pernyataan saya, dan
benar-benar menyangkal keberadaan Al-Qaidah di Suriah. Mereka
berpendapat bahwa orang-orang Suriah tidak akan menerima keberadaan al
Qaeda, lalu menambahkan bahwa Ikhwanul Muslimin telah menghentikan
perjuangan bersenjata sejak terjadinya pembantaian Hama pada tahun 1982.
Kini,
Penanggung Jawab Umum Jabhah An-Nushrah, Abu Muhammad al Jawlani, telah
menyatakan kesetiaannya kepada sang pemimpin Al-Qaidah, Aiman
Azh-Zhawahiri, dimana ini boleh jadi merupakan satu-satunya perkembangan
terbesar di tengah-tengah krisis Suriah sejak awal Maret 2011.
Berita
itu datang dari Abu Bakar Al-Baghdadi, pemimpin Al-Qaidah di Irak
(AQI), yang mengumumkan bahwa Jabhah An-Nushrah adalah perpanjangan AQI
di Suriah.
Dalam pernyataannya,
Al-Baghdadi menjelaskan bahwa AQI bermaksud untuk menciptakan organisasi
baru yang akan membawa keduanya, baik AQI dan An-Nushrah di bawah
bendera Daulah Islam Irak dan Syam.
Pemimpin
Islam itu mendesak faksi-faksi Islam melawan rezim Suriah Presiden
Basyar Al-Asad dengan tujuan akhir menerapkan UU syariat Islam.
Benar
adanya bahwa Al-Jaulani berlepas diri dari pernyataan al Baghdadi,
namun, ia menyatakan dirinya bangga dengan Daulah Islam Irak dan mereka
yang telah berjuang untuk meninggikan panjinya.
Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa kolaborasi antara Jabhah An-Nushrah dan Al-Qaidah adalah perkembangan terbesar
dalam krisis Suriah. Langkah ini telah membingungkan semua pihak yang
pernah menyatakan dukungan untuk revolusi Suriah, terutama AS dan
sekutunya dari kelompok-kelompok oposisi Suriah (yang berjuang melalui
meja diplomasi).
Tentara Pembebasan
Suriah (FSA) secara terang-terangan membantah koordinasinya dengan
An-Nushrah. Pemimpin Oposisi MuadzAl-Khatib, yang sebelumnya menyerang
keputusan Amerika untuk menempatkan An-Nushrah ke dalam daftar
organisasi teroris, telah menolak ideologi Al-Qaidah, dan mengklaim
bahwa ide-ide kelompok militan tidak sesuai dengan ide-ide yang dimiliki
oleh Koalisi Nasional Suriah (SNC).
Kata-kata Al Khatib memperlihatkan bahwa oposisi Suriah telah memutuskan untuk menjauhkan diri dari An-Nushrah.
Sekarang ada dua proyek yang saling bertentangan dalam oposisi bersenjata Suriah.
Yang pertama,
berusaha untuk mendirikan negara sipil dan demokratis dengan target
merancang konstitusi, sebagaimana yang terjadi di negara-negara
pasca-revolusioner lainnya, seperti Tunisia dan Mesir.
Yang kedua,
berupaya untuk mendirikan negara Islam, berdasarkan undang-undang
syariat, dan membentuk bagian dari kekhalifahan Islam yang lebih luas.
Sungguh luar biasa, pernyataan kesetiaan Jabhah An-Nushrah kepada pemimpin Al-Qaidah, Aiman Azh-Zawahiri.Mereka umumkan sehari sebelum pertemuan
antara pemimpin oposisi Suriah dan menteri luar negeri G8 di London,
dimana akan berfokus pada pembahasan seputar keputusan Barat
mempersenjatai oposisi Suriah. (Dalam artikel sebelumnya, Abdul Bari
Atwan menyebutkan, bahwa yang dikehendaki Barat adalah mempersenjatai
kelompok yang memiliki nilai-nilai Barat).
Delapan
negara yang tergabung dalam G8, dimana Amerika Serikat (AS) menjadi
pimpinannya, tidak begitu antusias untuk memberikan senjata pada oposisi
Suriah setelah munculnya kabar deklarasi berafiliasinya An-Nushrah pada
Al-Qaidah. Kita tidak bisa mengesampingkan bahwa negara-negara itu akan
menjawab panggilan untuk mempersenjatai hanya jika oposisi Suriah
menggunakannya untuk memerangi Jabhah An-Nushrah, kelompok Islam Suriah
yang berafiliasi dengan Al-Qaidah.
Konfrontasi
antara FSA dan An-Nushrah bisa dimulai dalam beberapa hari ke
depan.Sebagaimana yang diyakini AS, jika krisis Suriah semakin
berkepanjangan, maka Al-Qaidah akan semakin meningkatkan pengaruhnya di
wilayah Suriah.
Prioritas bagi Barat
dan sekutunya di dunia Arab adalah untuk melindungi Israel. Jika Suriah
menjadi negara Islam, jelas itu akan menimbulkan ancaman serius bagi
Israel.
Adalah fakta bahwa nama
pemimpin An-Nushrah adalah Abu Muhammad Al-Jaulani, menunjukkan bahwa ia
berasal dari wilayah Dataran Tinggi Golan, dan itu bukanlah suatu
kebetulan.
Fakta bahwa AS mengirimkan
Menteri Luar Negeri untuk menghidupkan kembali proses perdamaian,
sementara Menteri Pertahanan AS mengunjungi Tel Aviv untuk menghidupkan
kembali kerjasama militer antara Israel dan Turki, juga bukan suatu
kebetulan.
An-Nushrah kini menghadapi
dilema yang sulit, tidak hanya dalam krisis Suriah, tapi juga di Timur
Tengah selama beberapa tahun ke depan.
Medan
perlawanan Irak, yang dipimpin oleh Al-Qaidah, berhasil mengalahkan AS,
sedangkan gerakan perlawanan Taliban berhasil mengalahkan tentara NATO
di Afghanistan.
Al-Qaidah, secara
keseluruhan, mencapai hasil maksimal sejak lengsernya mantan rezim
Libia, dan jelas kini mengincar kemungkinan itu di Suriah.
Abdel Bari Atwan
Editor In Chief Al Quds Al Arabiyya
Editor In Chief Al Quds Al Arabiyya
Tanggapan Persatuan Ormas Islam Suriah
Tanggapan berikutnya muncul dari Asosiasi Ulama dan Dewan Ilmiah Suriah, yang merupakan perhimpunan tar berbagai ormas Islam regional Suriah.
Penjelasan Asosiasi Ulama dan Dewan Ilmiah Islam Suriah
tentang
Daulah Islam Irak-Syam dan Baiat Jabhah An-Nushrah
Seluruh
pujian hanyalah semata milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang diutus sebagai bagi semesta
alam, juga kepada keluarga dan sahabatnya secara keseluruhan.
Amma ba’d,
Selama beberapa hari lalu, berbagai pendapat dan proyek yang mengundang
perdebatan mengenai Daulah Islam Irak-Syam secara berurutan
bermunculan. Dimulai dari ajakan Azh-Zhawahiri untuk mendirikan Daulah
Islam di Suriah, disusul pengumuman Abu Bakar Al-Baghdadi tentang
berdirinya Daulah Islam Irak-Syam, dan diakhiri pernyataantajdid (penegasan) baiat Abu Muhammad Al-Jaulani, Amir Jabhah Nushrah, kepada Syaikhul Jihad Aiman Azh-Zhawahiri.
Efek dari peristiwa (ajakan, pengumuman, dan pernyataan) yang menjadi
buah bibir secara terang-terang tanpa sembunyi-sembunyi tersebut sangat
berbahaya sekali, sehingga harus dijelaskan dan didudukkan demi
melindungi revolusi, mengawal tujuan-tujuannya, dan sebagai sebuah
nasihat bagi umat, karena agama (Din) itu nasihat.
Tidaklah revolusi penuh berkah tersebut tegak melainkan demi melindungi
orang-orang yang lemah, pembelaan terhadap nyawa, kehormatan dan harta,
melengserkan rezim yang zalim lagi diktator, serta mendirikan
daulahyang hak dan adil, yang sesuai dengan petunjuk agama kita yang hanif (lurus), selaras dengan berbagai sunnatullah akantaghyir (sebab-akibat), dengan berpijak pada siyasah syar’iyah yang tepat, serta dengan musyawarah dan saling menasihati.
Adapun adanya pengumuman dari kelompok mana saja yang tidak menguasai
dan tidak memerintah negara dan wilayah tersebut untuk mendirikan negara
di wilayah lain yang menjadi bagian darinya, dan mewajibkan penduduknya
untuk berbaiat tanpa melalui musyawarah dengan seorangpun dari mereka,
terutama para ulama dan mujahid yang terlibat di sana, juga tanpa
mempertimbangkan efek-efek dan akibat-akibatnya, adalah suatu yang diingkari secara syar’i dan tertolak secara akal, bentuk kezaliman terhadap seluruh penduduk Syam, serta suatu penyerobotan terhadap kehendak dan nasib mereka.
Sungguh, rakyat Suriah kita sangat bangga dengan keislamannya tanpa sikap hulu (ekstrem)
dan melampaui batas, sebagaimana yang tampak pada revolusi dan jihad
mereka. Dengan pertolonganAllah, lalu dengan keahlian dan kemampuan yang
mereka miliki, serta dengan metode yang sesuai dengan masyarakat dan
realita mereka,mereka akan mampu mendirikan daulah yang sempat hilang.
Mereka menolak untuk menanggung kesalahan pemerintah-pemerintah asing,
atau diikutsertakannya dalam peperangan-peperangan mereka yang
dikendalikan dari sana-sini.
Di sini kami tujukan tiga surat (risalah) ini kepada:
Surat pertama: Untuk saudara-saudara kami Jabhah An-Nushrah
Sungguh, jihad kalian di bumi Syam bersama dengan seluruh faksi dan
batalion sejak awal revolusi penuh berkah ini adalah suatufakta, dan
pengorbanan-pengorbanan kalian juga tidak dipungkiri dan sangat
terkenal, serta ungkapan masyarakat di sana bahwa “Kami seluruhnyaJabhah An-Nushrah” merupakan bukti hal itu.
Namun, kewajiban menasihati menuntun kami—berdasarkan peristiwa yang
telah terjadi tersebut—untuk mengingatkan kalian beberapa hal, dalam
rangka mengamalkan firman Allah:“… Dan berilah peringatan. Sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman)”(Adz-Dzariyat: 55), seraya memohon agar Allah melapangkan hati kalian menerimanya.
Sungguh, pengumuman bahwa Jabhah An-Nushrah sebagai bagian dari
Al-Qaidah secara tanzhim dan “baiat terhadap Azh-Zhawahiri” mengandung pelanggaran-pelanggaran syar’i dan bahaya
berupa penyeretan negara dan masyarakat pada perang yang tidak mereka
perlukan, legitimasi“syar’i” perang terhadap kelompok-kelompok ekstrem
sebagaimana klaim mereka, membuka pintu intervensi dalam negeri bagi
negara-negara asing yang sedang mengintai, menyediakan legitimasi
terhadap apa pun usaha atau kepemimpinan mereka melawan mujahidin,
dengan alasan (seperti) memerangi “ekstremisme dan terorisme” atau
alasan lain yang pasti diketahui oleh orang berakal.
Lihatlah Rasulullah; beliau berkeinginan membagi setengah hasil kurma
Madinah untuk Bani Ghathafan yang bergabung (dengan pasukan Ahzab) agar
sayap sampingnya mendapat keamanan. Ini terjadi ketika beliau melihat
bangsa Arab bersatu padu menggempurnya. Apakah kita ingin manusia
seluruhnya memusuhi kita?
Oleh itu, kami mengajak saudara-saudara kami “Jabhah (An-Nushrah)”
untuk menarik baiat dan konsekuensinya berupa pertaruhan masa depan
berdasarkan ketetapan dan keputusan dari luar,serta berpotensi
melemahkan persatuan dan kesatuan internal sesama umat Islam. Kami
mengajak mereka untuk memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah dengan
ulama dan mujahidin di sana. Inilah jaminan terhindarnya negeri dan
masyarakat dari berbagai bencana dan petaka yang tidak diketahui
besarnya kecuali oleh Allah.
Sebagaimana kami mengajak pimpinan dan Dewan Syariah Jabhah An-Nushrah untuk mendetailkan manhaj-nya
seputar masalah takfir, bermuamalah dengan kelompok-kelompok dan
batalion-batalion yang berseberangan pendapat dengan berbagai ragamnya,
serta seputar mendirikan Daulah Islam. Janganlah membiarkan urusan ini
untuk (konsumsi) masyarakat luas dan (alat) rekayasa, dengan sambil
menyodorkan problem ini untuk dikaji dan didiskusikan bersama ahli ilmu.
Surat Kedua: Untuk saudara-saudara kami para revolusioner dan mujahidin
Sungguh
kalian telah berpartisipasi dalam revolusi penuh berkah ini demi
menolak kehinaan dan kerendahan, juga (menolak) setiap peribadatan
kepada selain Allah, menolong orang yang terzalimi, serta menegakkan
kebenaran dan keadilan. Kalian telah mencurahkan segala pengorbanan dan
persembahan di jalan itu, yang bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan,
dikagumi, dan semisalnya. Kita dalam urusan ini terlalu tergesa-gesa.
Kami ingatkan kalian bahwa perang terbesar kita adalah melawan rezim
zalim. Oleh karena itu, seyogianya kita mengarahkan moncong senjata kita
hanya pada mereka; tidak pada yang lain. Jika tidak, revolusi akan
menyimpang dari jalurnya, dan kekuatan akan tercerai-berai.
Sebagaimana kami juga menasihati kalian dengan sabda Rasulullah, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (pada musuh).”
Seorang Muslim tidak boleh memusuhi saudaranya yang Muslim meski
bagaimanapun bentuk perselisihan diantara mujahidin. Bermuamalah sesuai
tuntutan persaudaraan Islam berupa: sabar, menasihati, berusaha untuk
melakukan islah, dan menolong saudaranya yang terzalimi atau menzalimi,
serta meminta bantuan untuk tercapainya hal itu kepada yang memiliki
ilmu dan pengalaman merupakan suatu kewajiban.
Kami berwasiat pada kalian untuk bersungguh-sungguh melakukan tansiq sesama kalian, merapatkan barisan, dan menjauhi perselisihan. Allah berfirman, “… dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Al-Anfal: 46)
Ketahuilah, musuh tidak menggempur kita dengan senjata saja, namun
dengan mengadu domba antara kita, memecah barisan kita, dan menyebarkan
perselisihan dan pertikaian kita. Oleh sebab itu, kita hendaknya
berhati-hati.
Surat ketiga: Untuk seluruh negara-negara internasional
Revolusi Suriah tegak lantaran pengorbanan putra-putranya; bukan semata
oleh bagian dari faksi atau tanzhim mana pun,bahkan betul-betul
revolusi sipil. Seluruh lapisan masyarakat ikut bangkit, ketika
kezaliman dan kediktatoran membelenggu mereka selama beberapa dekade
lalu.
Rakyat kita tidak
mendapati -meski begitu banyak pengorbanan dan luka, serta kezaliman dan
pertumpahan darah oleh rezim- selain konspirasi dan persekongkolan
internasional melawan revolusi mereka, memberikan bantuan demi bantuan
pada rezim, menutup mata terhadap aliran senjata dan bantuan dari
negara-negara Sektarian dan Rusia, serta menahan persenjataan dari
mujahidin dengan berbagai argumen yang lemah, tuduhan-tuduhan palsu, dan
periode transisi yang terbuka.
Pengambilan tindakan apa pun yang diarahkan pada batalion-batalion
mujahidin, atau menambah kesulitan dan embargo pasokan persenjataan
kepada rakyat Suriah dengan dalih memerangi terorisme, tidak akan
dianggap rakyat Suriah kecuali sebagai suatu pertimbangan konspirasi dan
persekongkolan. Tidak ada teror yang melebihi teror rezim Asad yang
lalim.
Terakhir,
sebagaimana kami menolak intervensi tanzhim mana pun dalam menentukan
nasib Daulah Suriah, kami kembali menekankan penolakan intervensi asing
negara-negara dunia mana pun. Baik (intervensi) individual,
pemerintahan, atau negoisasi dengan pemerintah-pemerintah lainnya. Masa
depan Suriah tidak ditentukan kecuali oleh putra-putranya yang ikhlas.
Isu rakyat Suriah adalah isu yang adil lagi jelas. Ia berjalan sesuai
jalurnya untuk melengserkan rezim -dengan kehendak Allah. Tidak
terpengaruh oleh kehinaan orang-orang yang hina, juga tidak
persekongkolan para konspirator. “Sesungguhnya orang kafir itu
merencanakan tipu daya yang jahar dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun
membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.” (Ath-Thariq: 15-16)
Hanya kepada Allah lah segala urusan—sebelum dan setelahnya—diserahkan. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Sabtu, 3 Jumadal Akhir 1434 H bertepatan 13 April 2013.
Tanggapan Al-Qaradhawi: Tinggalkan Baiat kepada Al-Qaidah!
Sosok yang dikenal sebagai ulama senior, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga mendesak Jabhah An-Nusra untuk tetap setia kepada mainstreamTentara Pembebasan Suriah (FSA), serta menggambarkan janji setia kelompok tersebut kepada Al-Qaidah sebagai “berbahaya”.
"Sumpah setia ini menyebabkan bahaya internal dan eksternal, dan dampaknya terhadap revolusi berbahaya, karena itu akan memecah jajaran mujahidin," kata Al-Qaradhawi.
"Sumpah setia ini menyebabkan bahaya internal dan eksternal, dan dampaknya terhadap revolusi berbahaya, karena itu akan memecah jajaran mujahidin," kata Al-Qaradhawi.
Meski
demikian, Jabhah Al-Nusrahdiakui telah memainkan peran yang efektif
dalam memerangi pasukan Basyar Al-Asad.Ia mengatakan, "Jabhah
An-Nushrah, yang telah bekerja dengan sangat baik dalam jihad melawan
rezim tiran Damaskus, harus ... tetap dalam jajaran Tentara Pembebasan
(Suriah), untuk mempertahankan kesatuan," kata Ketua Persatuan Ulama
Muslim Internasional yang berbasis di Doha, Qatar tersebut.
Mewakili
perhimpunan ulama yang ia pimpin, Al-Qaradhawi mendesak Jabhah
An-Nushrah "untuk meninggalkan masalah pemerintahan dan negara di Suriah
sampai setelah pembebasan dari rezim Assad, ketika orang-orang bisa
bebas memilih sistem Islam atau sistem kekuasaan lainnya." Mereka
memperingatkan bahwa sumpah setia kepada Al-Qaidah hanya akan
"memperkuat" rezim Al-Asad.
Tanggapan Abu Bashir Ath-Tharthusi
Tanggapan
lainnya juga muncul dari Abu Bashir Ath-Tharthusi. Sosok yang dianggap
sebagai salah ideologi jihad modern ini juga menunjukkan resistensinya.
Sebagai ulama asli Suriah yang cukup berpengaruh di antara
kelompok-kelompok perlawanan Suriah, bahkan mujahidin internasional,
tanggapannya menarik untuk disimak.
Catatan Mengenai Pengumuman Daulah Islam Irak dan Syam
Segala pujian hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada (Rasul) yang tiada lagi nabi setelahnya. Amma ba’du:
Pada
Selasa, 9/4/2013, saya dan lainnya begitu terkejut dengan pengumuman
yang diluncurkan oleh Tanzhim “Daulah Islam Irak”yang berisibahwa Jabhah
An-Nushrah merupakan perpanjangan tangan (bagian) dari Daulah Islam
Irak dan diutus ke Suriah oleh mereka. Pengumuman itu juga mengenalkan
sebuah nama baru yang menggabungkan antara Jabhah An-Nushrah dan Daulah
Islam Irak, yaitu Daulah Islam Irak-Syam. Alasannya, kedua kelompok
tersebut berasal dari satu wadah dan kepemimpinan yang berada di Irak.
Lantaran
pengumuman ini akan menimbulkan efek dan pengaruh berbahaya sertakurang
terpujiatas Syam, penduduk Syam, dan revolusi Syam yang penuh berkah,
maka saya memberikan beberapa catatan berikut ini:
- Pengumuman yang berasal dari Jabhah yang disebutkan di atas ini tanpa melalui musyawarah dengan seorangpun ulama dan syekh di Syam. Begitu juga, tanpa musyawarah dengan faksi-faksi perlawanan jihad yang ikut andil di Syam dengan seluruh faksi-faksi dan nama-namanya. Karena merekalah yang pasti akan menanggung efek-efek dan pengaruh-pengaruh pengumuman seperti ini. Dengan begitu, mereka sebetulnya telah menyelisihi salah satu dasar, rukun, dan prinsip(Ashlan wa Ruknan wa Mabadi`) syariat, yaitu syura. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “… sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka” (Asy-Syura: 38).
- Pemetik laba terbesar dan peraih keuntungan pertama kalinya dari pengumuman ini adalah thaghut Basyar Al-Asad, rezim kelompoknya yang lalim, serta aliansi-aliansinya dari bangsa Iran. Keberadaan pengumuman ini akan semakin menguatkan argumen dan alibinya di depan perkumpulan internasional, regional dan lokal, selain juga semakin menambah pembenaran atas kejahatan-kejahatan dan kelaliman mereka atas rakyat Suriah dengan argumen bahwa yang mereka perangi dan bunuh adalah para teroris yang bermasalah di seluruh dunia. Oleh itu, penanggung kerugian terbesar dari pengumuman ini adalah rakyat Suriah yang tertindas dan terzalimi, juga revolusi Syam penuh berkah dan tiada duanya.
- Pengumuman ini …secara otomatis akan meringankan perlawanan Basyar Al-Asad, kelompoknya, Syabihahnya, dan aliansi-aliansinya yang kemudiandikongsikan kebeberapa faksi perlawanan … Jumlahnya sebanyak faksi-faksi yang menjadikan Tanzhim Daulah Irak sebagai musuh. Peperangan … alangkah banyak terjadinya. Pemahaman ini telah berulang kali saya singgung dan isyaratkan, juga saya ingatkan dalam berbagai tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah saya.
- Pengumuman ini … maksudnya sudah pasti terhadaprevolusi Syam penuh berkah … akan menyinggung seluruh kesalahan Tanzhim Daulah Irak yang lama, sekarang, dan yang akan datang … Sebagaimana juga bermaksud mengaitkan revolusi Syam dan penduduknya, …masa depannya, … cita-citanya, … dan tujuan-tujuannya, … dengan kepemimpinan Irak yang majhul(tidak dikenal) oleh rakyat Suriah.
- Pengumuman ini sangat berbahaya terhadap proyek rakyat Muslim Suriah, yang pada intinya untuk mendirikan daulah Islam yang independen, yang para pendirinya jujur dan adil … Ini memberikan tambahan alasan bagi Amerika dan aliansi-aliansinya (dari negara-negara Barat dan lainnya, termasuk Cina, India, Rusia dan sebagainya) untuk melakukan intervensi mengenai kondisi internal Suriah …(dalam seluruh urusan; baik yang besar maupun yang kecil)... Dan pada akhirnya mereka akan tegak berdiri di depan cemoohan rakyat Suriah ... dengan alasan dan klaim bahwa mereka menargetkan—atau mengincar—Al-Qaidah; person-personnya dan fraksi-fraksinya.
Pengumuman
tersebut akan mempermudah mereka (menjalankan) kepentingan ini ... Di
sisi lain akan mempersulit rakyat Suriah (menjalankan) kepentingan
mereka ... Alangkah memprihatinkan ....
- Pengumuman ini akan menghalangi rakyat Suriah yang sedang diuji dan terisolasi dari aliran dukungan solidaritas dan simpati, serta bantuan dan pertolongan kemanusiaan yang begitu banyak … yang datang dari luar … Jika di sana ada bantuan-bantuan militer yang ‘secara malu-malu’ diberikan pada rakyat kita, revolusi kita, dan mujahidin kita lewat kereta-kereta api … maka kereta-kereta ini akan diberhentikan … dengan anggapan bahwa bantuan-bantuan tersebut akan diserahkan dan dikirimkan untuk Tanzhim Al-Qaidah,atau apa yang disebut “Daulah Islam Irak-Syam”, yang selanjutnya harus diusir dan dicegah di setiap titik perbatasan dan perlintasan.
- Saya mohon! Sekali lagi, saya mohon! Janganlah sampai pengumuman ini sebagai … pengumuman dan fase awal penumpahan darah yang diharamkan … dengan anggapan bahwa siapa pun yang menentang pengumuman ini, atau berpandangan bahwa itu tidak memberikan maslahat bagi Syam; rakyatnya; dan revolusinya … maka dia adalah bagian dari musuh dan ‘pemberontak’ (ash-shahawat) yang halal darahnya … Berikutnya, bermuamalah dengannya harus menggunakan metode muamalah tanzhim “Daulah Islam Irak” dengan ‘pemberontak’ di Irak ... sehingga dengan itu mereka akan mengulangi kegagalan eksperimen (tajribah) Irak … kejahatan dan kesalahan (Daulah Islam) Irak di bumiSyam.
Dari
beberapa cacatan di atas tersebut, saya (berani) mengatakan bahwa
pengumuman yang dikeluarkan “Daulah Islam Irak” adalah satu kesalahan dan berbahaya dengan seluruh pertimbangannya … tertolak berdasarkan dalil naql (al-Quran dan sunnah) dan akal … Saya berharap kepada teman-teman (ikhwah) mujahidin yang tulus (shaadiqiin)
di Jabhah An-Nushrah untuk … meneliti kembali sikap yang akan diambil …
dan untuk lebih mengedepankan maslahat Islam … maslahat Syam … rakyat
Syam …di atas maslahat kelompok yang picik … di atas (maslahat)
nama-nama baru yang menyulut (api) permusuhan; yang tidak dapat
dipercepat maupun ditangguhkan. Janganlah sampai mereka—tanpa mereka
sadari dan inginkan—menjadi pembantu thaghut yang lalim terhadap Syam dan rakyatnya!
Abdul Mun’im Mushtahafa Halimah
Abu Bashir Ath-Thurthusi
9/4/2013
Tanggapan Husain bin Mahmud
Husain
bin Mahmud adalah seorang pemikir dan analis terkemuka di berbagai
mimbar dan forum jihad internasional di dunia maya. Ia juga satu-satunya
orang yang pernah menulis biografi pemimpin Taliban Mulla Umar secara
lebih mendalam. Berbagai tulisannya menunjukkan kedekatan hubungannya
dengan kalangan mujahidin internasional. Yang menarik, tulisannya berisi
kritik balik terhadap pihak-pihak yang menyatakan keberatannya terhadap
pernyataan Abu Bakar Al-Baghdadi maupun Abu Muhammad Al-Jaulani.
Selanjutnya, ia memberikan solusi “jalan tengah” terkait kontroversi
seputar deklarasi Daulah Islam Irak dan Syam.
Episode Fitnah
Kebanyakan perhatian penolong (anshar) Jihad mungkin akan mengarah pada episode (isu) terakhir yang berawal dengan sanjungan (tazkiyah)
Amir Azh-Zhawahiri kepada Amir Al-Baghdadi, ditindaklanjuti deklarasi
Al-Baghdadi untuk menggabungkan kedua faksi di Irak dan Syam dalam
(wadah) Daulah Islam Irak-Syam, kemudian pengumuman keberatan Amir
Al-Julani terhadap penggabungan tersebut, selanjutnya baiat (pernyataan kesetiaan) Jabhah An-Nushrah kepada Amir Azh-Zhawahiri!
Episode
ini terjadi dalam beberapa hari dan dengan kata-kata yang menggelitik.
Namun ia menampilkan goncangan besar pemikiran yang diadopsi anshaar
mujahidin di berbagai tempat,selain juga menampilkan goncangan yang
tidak sedikit di kalangan para ulama, dai, penuntut ilmu, dan garda
depan penolong mujahidin (khawashul anshari li ahlil jihad).
(Untuk itu), evaluasi pengaruh episode ini terhadap mayoritas pemuda yang tidak mengerti problematika amal islami
seperti ini adalah keharusan. Sebagian mereka akan membenturkannya;
sebagian lagi mengambil suatu sikap; dan sebagian lainnya bersikap
fanatik. Sehingga terjadilah pertengkaran, saling membenci, dan
mencurigai. Berikutnya, persatuan akan pudar; hati saling menjauhi; dan
sebagian lagi berdiri jauh sambil mengawasi situasi tanpa berusaha
berpartisipasi, dengan harapan bahwa mendung tersebut segera berlalu.
Begitulah seterusnya . . .
Terkadang
isu tersebut begitu besar menurut sebagian kalangan, sedang menurut
sebagian lain menganggapnya lebih kecil dari yang kita bayangkan. Mereka
yang optimis (mutafa’il) berkomentar“[Itu menunjukkan] buruknya tansiq antar qiyadah”.
Adapun mereka yang pesimis (berkomentar), “Isu-isu yang mereka singgung
dalam buku-buku, artikel-artikel, dan berbagai pernyataan mereka....”
Oleh karena itu, kami berusaha mendiskusikan seberapa pemahaman yang
kami percayai masih begitu remang bagi sebagian kalangan. (Pemahaman
itu) diistilahkan dalam tema ini sebagai fitnah, karena demikianlah realitanya. Fitnah-fitnah itu diantaranya:
- Pemahaman firman Allah, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami ...” [Al-Ankabut: 69]. Ayat ini tidak dipahami oleh sebagian kalangan. Hidayah (menunjukkan) pada ayat ini tidak berarti terbebas dari kekeliruan (ma’shum) dalam setiap kebijakan (yang diambil). Bagaimana pun, mujahidin adalah manusia; pun demikian qiyadah mereka. Mereka bisa melakukan kekeliruan dan tidak ma’shum. Maksud ayat tersebut adalah bahwa mereka lebih dekat kepada hidayah umum dibandingkan dengan kebanyakan Muslim lainnya. Ini lantaran keikhlasan dan kemuliaan amal mereka, serta ibadah mereka yang kontinu.
Sebagian ulama menafsirkan bahwa ayat ini berlaku untuk mereka yang berperang (ahlil qital).
Sedang sebagian lagi menafsirkan bahwa ia berlaku untuk setiap orang
yang berjihad dengan bentuk jihad apa pun. (Untuk itu), menurut sebagian
ahli tafsir, orang yang berjihad terhadap nafsunya atau setan, dan
musuh dari dalam atau dari luar, tanpa mengenal lemah, bermalas-malasan
dan putus asa termasuk dalam ayat ini. Zahir ayat ini menunjukkan bahwa
ia berlaku untuk ahlilqital. Karea ulama berpendapat bahwa jika kata jihad berbentuk mutlak
(terlepas dari ikatan makna mana pun) maka maksudnya adalah berperang
di jalan Allah, selama tidak ada yang mengalihkan dari makna tersebut.
Tegasnya, hidayah yang dimaksudkan di sini tidak berarti ma’shum. Untuk itu, tidak sepantasnya dengan ayat ini -dengan anggapan bahwa mereka adalah ma’shum-
kita gunakan untuk menyerang setiap orang yang menyangkal atau
menyelisihi keputusan dan tindakan mujahidin dengan stempel sesat.Khalid
bin Walid ra pernah membunuh Bani Jadzimah dan Nabi saw lepas tangan
dari tindakannya. Pasukan pemanah di Bukit Uhud yang terdiri dari
kalangan shahabat mujahidun pernah turun (dari bukit) yang menyebabkan
kekalahan pasukan Islam, dan banyak lagi contohnya.... Terkadang
pendapat sebagian mujahidin lebih tepat dari sebagian lainnya, dan
terkadang pendapat mereka yang tidak berjihad (qa’iduun) lebih benar dari pendapat mujahidin. Perkara ini suatu yang fleksibel (nisbi); bukan suatu yang tetap (muthlaq).
- Berburuk sangka terhadap sesama Muslim ... Ini merupakan masalah penting yang dengannya Allah menurunkan (ayat) Al-Quran untuk dibacakan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa ...” [Al-Hujurat: 12] Juga firman-Nya, “... dan sesungguhnyaprasangka itu tidak berfaedah sedikitpun terhadapkebenaran.” [An-Najm: 28].
(Untuk itu), mungkin kita tidak menemukan kata zhann (prasangka) yang berbentuk ma’rifah (berartikel alif-lam)
dalam Al-Quran kecuali berkonotasi negatif. Dari sini, mungkin kita
bertanya-tanya, “Apa sikap dasar kita terhadap sesama Muslim?” “Mengapa
berburuk sangka?” “Dimana gerangan menginterpretasikan pernyataan Muslim
pada interpretasi terbaik?” Bukankah berprasangka buruk hanya akan
mengakibatkan permusuhan dan dendam!
- Merujuk pada Kitab Allah Ta’ala, kita akan menemukan bahwa Allah Ta’ala telah menyebutkan larangan yang keras sebelum ayat (mengenai) prasangka dalam surat Al-Hujurat. Allah subhaanahu berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka yang (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain,(karena) bisa jadi perempuan (yang perolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al-Hujurat: 11].
Sungguh
kita telah menyaksikan bagaimana prasangka buruk telah menjembatani
para ikhwah untuk saling mengumpat, saling memberi gelar-gelar yang
buruk, dan saling olok-mengolok. Kita telah mendengar ucapan yang penuh
dengan celaan, pelaknatan, kekejian dan keburukan! Maka, di mana
adab-adab Islam? Apakah kita anshar isu-isu Islam atau isu-isu pasaran? Dimana kita jika (ditimbang) dengan sabda Nabi saw, “Bukanlah seorang Mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata buruk, dan keji” [HR At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani]. Apakah ada yang beryakinan bahwa kemenangan akan diraih dengan menafikan keimanan?
- Sebagian kalangan telah berpartisipasi memecah-belah dan mencerai-beraikan mujahidin tanpa mereka sadari. Sebagian kalangan fanatik pada pendapat seorang tokoh, dan lainnya fanatik pada pendapat tokoh yang lain. Sehingga kita menjadi dua kelompok dengan dua pendapat, padahal sebelumnya kita berada pada satu faksi dan di bawah satu kepemimpinan. Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang sangat jelas; yang tidak memberikan celah untuk menginterpretasikannya sedikit pun. Allah berfirman, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.”[Al-Anfal: 46].
Hakikat
ini tidak diperdebatkan. Perselisihan akan berujung pada sifat gentar
dan hilangnya kekuatan, serta bertentangan dengan ketaatan pada Allah
dan Rasul-Nya yang disebutkan pada awal ayat. Untuk itu, wajib bersabar
dan mengarahkan sebagian urusanmenuju satu kesepakatan, sehingga
terealisasilah kebersamaan Allah (ma’iyyatullah) dan dengan karunia-Nyatercapailah kemenangan.
Siapa
yang menadaburi ayat ini dengan baik, dia akan mengetahui hal ini
dengan penuh keyakinan. Kita semuanya hapal firman Allah, “Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan
yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh.” [Ash-Shaff: 4]. Pertanyaannya, jika Allah mencintai hal
ini, apakah Dia (juga) mencintai hal yang sebaliknya? Apakah kita akan
meraih kemenangan dengan sesuatu yang tidak dicintai-Nya?
- Apakah kita diperbolehkan menyelisihi pendapat qadah (pemimpin) kita? Menurut sebagian (mujahidin) ini merupakan suatu dilema, sedangkan menurut sebagian lainnya hal ini adalah suatu yang tabu. Untuk itu, dilema ini harus diterangkan secara gamblang ... Ada perbedaan antara menyelisihipendapatqadah dan menyelisihiperintah mereka yang bukan dalam kemaksiatan. Seseorang tidak sepantasnya menyia-nyiakan akalnya dan mempertaruhkannya untuk orang lain.
Para sahabat dahulu sering kali mereview
sebagian keputusan-keputusan Nabi saw dan mendiskusikannya. Nabi tidak
melarang mereka bahkan mengajak mereka bermusyawarah, padahal beliau
adalah orang yang paling tidak membutuhkannya. Maka, sudah tentu selain
beliau lebih pantas (mengajak orang lain bermusyawarah). Qadah jihad bukanlah para diktator (thaghut).
Diktator adalah orang yang menolak siapa pun menyelisihi pendapatnya.
Oleh itu, Anda akan menemukan beribu-ribu ‘penjara’ pemikiran di
negara-negara diktatoris.
Jika qadah
jihad menginstruksikan sesuatu, para pasukan harus tunduk dan taat
selama tidak dalam kemaksiatan. Meski terkadang beberapa pasukan tidak
sependapat dan tidak puas dengan pendapat qadah, namun dia
harus tunduk dan taat. Dia tidak berdosa karena menganggap pendapat
tersebut tidak tepat. Namun, terkadang dia berdosa jika memberontak qadah dan menampakkan ketidaksetujuannya terhadap pendapat qadah dalam beberapa keputusan yang tidak mengandung interpretasi. Seperti qadah
mengumumkan sesuatu pada saat perang berkecamuk, atau saat kondisi
barisan pasukan Islam bercerai-berai atau lemah. Saat kondisi seperti
itu, diam adalah suatu keharusan ...
Terkadang
seseorang tidak setuju dengan deklarasi Al-Baghdadi mengenai “Daulah
Islam Irak-Syam”, atau dengan keberatan Al-Jaulani untuk bergabung
dengan daulah tersebut. Atau (ungkapan), “Pendapat sayalah yang paling
benar”, “Ini adalah hak asasi dan syar’i yang dianugerahkan pada saya
untuk mengeluarkan pendapat.” Namun, apakah ada maslahat menyampaikan
pendapat tersebut terang-terangan di khalayak ramai? Apakah suatu
yangbijak fanatik terhadap suatu pendapat dan phobi terhadap pendapat
yang menyelisihinya, serta melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya pada
waktu dan kondisi seperti ini?
- Ada perbedaan antara nasihat dan tasyaffi (melampiaskan kemarahan). Terdapat adab-adab dan ketentuan-ketentuan dalam (memberi) nasihat. Ia sangat dianjurkan dan disukai oleh mereka yang bijaksana. Ia terjadi diantara suadara yang saling mencintai (ahibbah)... Adapun tasyaffi merupakan kekesalan-kekesalan di hati yang terlampiaskan pada saat orang yang dikesali sedang mendapat cobaan. Itu merupakan indikasi tidakridha terhadap suatu perkara yang terjadi sebelumnya, kemurkaan, dan kebencian internal. Itu suatu yang tercela jika terjadi pada sesama ikhwah.
- Senantiasa waspada terhadap wazaghat (provokator), yaitu setan dari kalangan manusia yang meniup setiap percikan dan bara api untuk mendapatkan dan menyalakan api guna membakar umat Islam ... Rasulullah telah memerintahkan kita untuk membunuh para provokator karena merekalah yang menyalakan api untuk membakar Nabi Ibrahim. Seyogianya kita mempelajari benda menjijikkan ini supaya kita tahu bahwa tempatnya ialah di bawah telapak kaki ... Oleh itu, setiap orang yang berupaya memecah-belah barisan kita,menanam (benih) permusuhan dan kebencian sesama kita, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk menghasut sesama kita, maka dia adalahprovokator.
- Sebagian (mujahidin) telah melupakan firman Allah, “... maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum kerena kebodohan (kecerobohan ...” [Al-Hujurat: 6]. Perintah ‘telitilah’ di sini bukan suatu opsi, namun suatu kewajiban. Orang yang bijaksana tidak mungkin menerima begitu saja setiap apa yang dia dengar dan baca, dia semestinya meneliti isu-isu tersebut. Kita adalah umat yang senantiasa meneliti suatu isu (ummatut tatsabbut). Kita tidak akan menerima suatu hadits dari orang manapun sehingga kita mengetahui kualitas rawi dan sanadnya, serta kita betul-betul yakin bahwa hadits tersebut selaras dengan dasar-dasar agama yang universal (al-Ushul al-‘Ammah). Keistimewaan ini tidak akan ditemukan pada umat yang lain.
- Ada satu kaidah -layak kita namakan ‘kaidah emas’- yang tepat untuk kondisi pada saat ini. Diriwayatkan bahwa sebagian salaf pernah berkata, “Setiap yang rasional itu tidak semuanya tepat diucapkan. Dan setiap yang tepat diucapkan tidak semuanya tepat momennya. Setiap yang tepat momennya belum tentu audiensnya bersedia.”[1] Pemahaman kaidah ini tidak akan diketahui kecuali oleh mereka yang arif-bijaksana, mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang mendalam. Dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang bijak, telaten (tekun), sabar, dan berakal. Kaidah itu dapat kita terapkan dalam isu ini supaya kita dapat menimba pelajaran praktis berharga berupa penyikapan terhadap berbagai pendapat.
“Setiap yang rasional tidak semuanya tepat diucapkan”.Terkadang
saya mengetahui beberapa informasi atau rahasia, atau mengetahui
beberapa perkara yang hanya diketahui oleh segelintir orang, maka apakah
termasuk bijaksana jika saya menyampaikan seluruh yang saya ketahui?
Jika saya memiliki beberapa informasi dan rahasia mujahidin, apakah
pantas saya menyampaikan pada semua orang? Atau saya akan mengatakannya
jika saya tahu bahwa hal itu bermanfaat bagi umat Islam dan tidak
membahayakan mereka, dan membiarkannya untuk konsumsi pribadi saya saja
terkhusus jika pengumuman itu membahayakan Islam dan umat Islam.
“Dan setiap yang tepat diucapkan tidak semuanya tepat momennya.”
Kaidah ini sangat penting pada masa sekarang ini, lantaran menyebarnya
jejaring sosial, keberadaan internet, dan media-media informasi.
Sebagian (mujahidin) terkadang mengekspos beberapa isu yang sebenarnya
tidak layak dikonsumsi khalayak umum. Sehingga jika khalayak umum
mengaksesnya, akan timbullah kebingungan, kesimpang-siuran, dan fitnah
yang besar disebabkan khalayak umum menginterpretasikan isu tersebut
tidak pada tempatnya, atau karena ketidaktahuan mereka mengenai isu yang
sesungguhnya, atau akibat-akibat lain yang muncul lantaran menampilkan
beberapa isu khusus untuk konsumsi khalayak umum. Perkara ini sangat
berbahaya sekali. Seyogianya hal itu dimusyawarahkan dengan beberapa
ulama (terlebih dahulu) dan tidak mengumumkan isu-isu khusus untuk
khalayak umum. Nabi tidak bermusyawarah dengan seluruhsahabat dalam
setiap perkara. Beliau hanya memiliki satu majelis syura kecil yang
dipelopori Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab. Majlis syura Umar pun
hanya terdiri dari beberapa sahabat senior dan yunior (kibarush shahabati wa shigharuhum).
Ucapan yang tidak mampu dinalar akal terkadang menjadi fitnah bagi
sebagian kalangan. Dan terkadang Allah dan Rasul-Nya didustakan lantaran
akal tidak mampu menalar penjelasannya.
Orang
yang bijaksana tidak pantas mengutarakan apa yang diketahuinya pada
setiap kondisi dan orang, bahkan seyogianya dia menyeleksi apa yang
hendak diutarakannya pada waktu yang tepat, lalu dia mengutarakan hal
tersebut pada orang yang betul-betul mengerti persoalan, berpengalaman,
bijaksana dan amanah. Inilah hikmah …
- Dasar interaksi dengan sesama Muslim adalah saling mencintai, mengasihi, lemah lembut, dan merendahkan diri. Allah berfirman:
“Muhammad
adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap
keras trehadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka” [Al-Fath: 29]
“Maka,
berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekitarmu …” [Ali ‘Imran: 159]
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” [Asy-Syu’araa: 215].
Sementara Nabi bersabda, “Perumpamaan
orang-orang beriman dalam perasaan saling mencintai, mengasihi, dan
simpati sesama mereka adalah ibarat satu tubuh, jika satu anggota tubuh
merasakan sakit, anggota lainnya akan ikut tidak bisa lena dan demam.” [HR Muslim].
Sebagian
muslim malah membolak-balik ini, mereka bersikap keras dan berhati
kasar terhadap sesama Muslim, dan bersikap nista dalam permusuhan—dan
saya berlindung kepada Allah. Sikap ini bertentangan dengan dasar
(syariat) dan merupakan bentuk kemaksiatan.
Mungkin
sebagian kita menanti ‘kata pemutus’ mengenai isu yang sedang bergulir
ini. Tujuan penyebutan beberapa kaidah dan diskusi mengenai beberapa
pemahaman tersebut adalah agar menjadi dasar pijakan bagi
saudara-saudara tercinta sekalian pada masa sekarang dan akan datang.
Sebagaimana perkataan Barat, “Jangan berikan aku ikan. Ajarkanlah aku
cara menangkapnya.” … Hikmah adalah benda berharga Mukmin yang hilang …
Namun, setelah penulisan kaidah-kaidah ini, saya berharap pada sebagian ikhwah untuk menasihati ikhwah lainnya. Juga bukan suatu dosa memberikan nasihat yang wajib bagi kita kepada qadah kita, ikhwah mujahidin, dan anshar mereka.
Saya
katakan kepada mujahidin, “Ketahuilah—semoga Allah merahmati
kalian—bahwa kalian telah keluar di jalan Allah dalam upaya mencari
keridaan-Nya; kalian tidak keluar untuk mengangkat bendera suatu partai
atau kelompok. Orang yang demikian ini sudah tentu tidak akan bersikap
fanatik terhadap pendapat seorang qadah atau jamaah manapun. Allah adalah tujuan akhir kalian, dan apa yang ada di sisi-Nya adalah suatu yang kalian harapkan.
Terkadang
muncul beberapa problem, sehingga terjadi kesimpang-siuran. Namun,
tidak sepantasnya hal itu mengeruhkan kemurnian keikhlasan dan niat ‘Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjulang tinggi maka dia berada di jalan Allah’,
bukan meninggikan bendera personal atau jamaah manapun. Terkadang dalam
satu pasukan terdapat para syuhada dan korban perang, Allah akan
melihat niat di hati mereka, Dia-lah Maha Mengetahui perkara yang gaib…
Namun,
ini tidak berarti (membolehkan) memisahkan diri dari jamaah. Bahkan,
diantara prasyarat keikhlasan adalah konsisten untuk taat dan komitmen
terhadap jamaah karena itu merupakan perintah Allah Ta’ala…
Ikhlaskanlah niat kalian karena Allah, konsistenlah untuk taat,
komitmenlah pada jamaah, bersabarlah dan berusahalah untuk bersabar,
serta bergembiralah dengan pertolongan dari Allah yang sebentar lagi
akan tiba.”
Sebagian (mujahidin) yang
meminta kami untuk memberikan nasihat pada beberapa personal Jabhah
An-Nushrah di Syam.Untuk itu, saya katakan, “Al-Baghdadi berpendapat
bahwa sebaiknya qiyadah (kepemimpinan) itu terpusat agar
mujahidin bisa saling menguatkan, dan meminta (Al-Julani) agar
mencontohkan pembatalan perbatasan-perbatasan antara negeri-negeri Islam
dan maslahat-maslahat lainnya. Sedang Al-Julani berpendapat bahwa
sebaiknya qiyadah tidak terpusat untuk masa sekarang ini,
lantaran keistimewaan fraksi-fraksi di Syam dan perjanjian-perjanjian
yang berlaku di sana. Kedua tokoh tersebut berbeda pendapat, namun
memiliki tujuan yang satu; yaitu untuk menolong agama ini.
Bagaimanapun
kondisinya, fase perbedaan pendapat seperti ini tidak pantas
mengeruhkan ketulusan hati, dan tidak memecahkan persatuan, karena
perbedaan pendapat antara tokoh adalah suatu yang lumrah … Tidak boleh!
Saya
katakan, “Pecahnya barisan seperti ini tidak boleh secara syar’i.
Seyogianya urusan ini tetap pada kondisi semula, yaitu konsisten untuk
menaati Amir Al-Julani. Siapa yang menyelisihi perintahnya, dia telah
bermaksiat pada Allah dan Rasul-Nya serta berupaya melemahkan kekuatan
umat Islam. Demi Allah! Demi Allah! Masa depan Islam ada di tangan
kalian. Perang masih berkecamuk dan musuh yang hina senantiasa mengintai
kalian. Siapa yang mencontohkan perpecahan maka dia menanggung dosanya
dan dosa yang mengikutinya serta memikul tanggung jawab atas tumpahnya
darah dan robeknya kehormatan umat Islam. Dan siapa yang menggunakan
akalnya dan berkomitmen pada jamaah maka dia mendapat pahala dan pahala
orang yang mengikutinya serta pahala terangkatnya Islam di bumi Syam
sampai hari kiamat kelak.”
Kepada para qadah,
saya menasihati, “Bertakwalah kalian pada Allah dalam mengurusi umat
Islam. Ketahuilah, kepemimpinan adalah suatu amanat, dan tujuan kalian
adalah menolong agama ini. Bermusyawarahlah kalian. Tuntaskanlah
urusan-urusan kalian dengan penuh kerahasiaan (kitman). Ketahuilah, genderang perang baru saja ditabuh, totalitas kesungguhan semua fraksi begitu dibutuhkan. Mungkin qiyaadah
yang tidak terpusat adalah opsi terbaik pada saat ini lantaran jarak
antara fraksi yang saling berjauhan, juga karena beberapa isu ini belum
begitu jelas. Qadah Jabhah (An-Nushrah) lebih memahami realitas
dan maslahat di lapangan. Setiap fraksi tersibukkan dengan fraksi
lainnya. Fraksi yang telah menyelesaikan problem internalnya baru akan
beralih ke fraksi lain; bukan malah sebaliknya.
Hendaklah
kalian bersabar dan terus bersabar karena sungguh Allah bersama
orang-orang yang sabar. Jangan tergesa-gesa memetik buah dari pohon yang
masih belum kokoh dahannya. Kalian jangan turun dari bukit pemanah
sebelum peperangan usai sehingga musuh bisa menyerang kalian dari
belakang. Janganlah kalian bermaksiat pada Allah dengan berselisih dan
berpecah-belah sehingga kalian menjadi gentar serta lenyaplah kekuatan
kalian. Jadilah hamba Allah yang saling bersaudara.
Tunduklah
pada Allah. Rendahkanlah diri pada saudara-saudara kalian, semoga
dengannya Allah meninggikan kemulian kalian. Carilah apa yang ada di
sisi Allah saja. Ketahuilah, jika niat kalian ikhlas, kalian akan mampu
meruntuhkan gunung sebelum kalian meruntuhkannya dengan bom kalian.
Allah akan menolong hamba yang menolong (agama)Nya. Dia-lah Mahakuasa
lagi Maha Perkasa.”
Untuk anshaar
(jihad), saya nasehatkan, “Bertakwalah kalian pada Allah mengenai darah
umat Islam dan terkhusus darah mujahidin. Jadikanlah kaidah-kaidah
Islam dan manhajnya sebagai barometer dalam setiap isu.
Ketahuilah, kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan dan
ucapan kalian di hadapan Allah. Isu seperti ini tidak pantas diberikan
porsi yang lebih besar atau menyebabkan perselisihan diantara kalian,
berikutnya menyebabkan perselisihan mujahidin di berbagai fraksi.”
Berikut saya sebutkan beberapa kaidah untuk sekedar mengingatkan:
- Tidak ada seorang pun yang ma’shum setelah Nabi saw
- Meneliti setiap pendapat adalah suatu kewajiban.
- Berprasangka baik sesama Muslim adalah dasar (muamalah dengan Muslim)
- Konsisten dengan dasar-dasar diskusi yang syar’i adalah suatu kewajiban
- Menyia-nyiakan akal dan mempertaruhkannya pada orang lain merupakan suatu yang tidak pantas
- Hendaknya mengetahui perbedaan antara berbeda pendapat dan menyelisihi perintah (qadah)
- Perbedaan pendapat merupakan suatu yang lumrah dan harus disikapi dengan cara yang bijaksana.
- Fanatik dan membela mati-matian seseorang atau sebuah Jamaah Islam dan tidak (bersikap demikian) terhadap selain mereka merupakan suatu yang tidak pantas
- Diantara ajaran agama terpenting adalah berpegang teguh pada Din, bersatu padu, dan merapatkan barisan
- Penyebab kegagalan yang paling dominan adalah terjadinya pertikaian
- Mengatakan apa saja pada setiap waktu dan ditujukan untuk setiap orang adalah sikap yang tidak bijaksana
- Orang-orang beriman pada dasarnya bersikap keras pada orang kafir dan saling mengasihi sesama mereka
- Waspada terhadap para provokator adalah sebuah keniscayaan
- Pertolongan Allah pada umat Islam tergadaikan dengan mereka menolong agama mereka, bukan dengan bermaksiat pada Allah.
Apa yang ditulis oleh sebagian anshar (jihad) tidak terlepas dari sikap fanatik terhadap seorang qaid
atau sebuah jamaah, sehingga bentuk pembelaan pribadi dan dukungan
terhadapnya terkandung dalam pernyataan mereka. Sebagian juga bersikukuh
tidak mengakui kesalahannya sehingga dia mati-matian mempertahankannya.
Sikap ini seluruhnya telah keluar dari rel keikhlasan terhadap isu
sentral, yaitu menolong agama ini.
Untuk
itu, mengembalikan urusan pada Allah, memurnikan keikhlasan, meluruskan
niat, bertaubat dan memohon ampunan (pada-Nya) merupakan suatu
kewajiban untuk saat ini. Janganlah sebagian (kita) termasuk orang yang
dimaksudkan Allah dalam firman-Nya, “Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.” [Al-Baqarah: 206].
Orang pandir akan menyangka bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan. Sedang Nabi saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam berbuat kesalahan-kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat” [HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani].
Orang
yang cerdik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah. Namun,
orang cerdik adalah mereka yang mengakui kesalahannya dan tidak
terus-menerus melakukan kesalahan yang sama.
Sungguh mengherankan!
Seseorang akan terheran-heran saat menyaksikan sebagian (ansharul jihad)
yang berkeyakinan bahwa mencela Al-Qaidah merupakan suatu keharusan
demi menolong problematika umat Islam! Saya telah membaca berbagai
statemen dan analisa yang mengkritik baiat (janji kesetiaan) Al-Jaulani
kepada Azh-Zhawari, seakan-akan Al-Jaulani telah melakukan suatu dosa
besar! Hampir seluruhnya menyayangkan (peristiwa tersebut) atas (masa
depan) jihad, dan menstempel baiat itu sebagai bentuk intervensi asing,
serta membangun bangunan rapuh di atasnya kemudian menghancurkan
(bangunan tersebut) demi kepentingan orang-orang kafir. Semoga Allah
menolong (kita terhindar dari hal itu).
Jika kami boleh bertanya, “Perubahan apa yang terjadi setelah adanya bai’at
yang kalian sayangkan itu?” Apakah berbagai bantuan Barat-Salibis
kepada umat Islam di Suriah yang hanya iming-iming tersebut telah
terhenti? Apakah Barat-Salibis menarik kembali keterlibatannya yang
secara sembunyi-sembunyi itu? Apakah dengan baiat tersebut Barat-Salibis
berhenti melancarkan tipu daya terhadap umat Islam? Apakah lantaran
baiat ini ‘mesin pembunuh’ Nushairiyah-Rafidhah akan kembali beraksi
setelah sebelumnya sempat terhenti? Jadi, apa yang berubah?
Sebagian
yang lain berkomentar bahwa mujahidin telah memberi peluang pada
Barat-Salibis untuk melakukan intervensi. Sebagian lagi berkomentar
bahwa mereka telah menutup peluang Barat untuk melakukan intervensi. Dan
sebagian ikut berkomentar bahwa mujahidin telah memberikan kesempatan
bagi Nushairiyah-Kafir untuk melakukan pembunuhan! Alangkah
mengenaskannya fakta bahwa sebagian umat Islam yang telah terjerumus
pada level pemikiran yang begitu picik dan hina tersebut!
Sejak
sebelum maupun sesudah baiat, Nasrani dan Yahudi akan senantiasa
melancarkan tipu daya dan permusuhan pada umat Islam. Barat-Salibis akan
selalu menghalang-halangi mujahidin untuk mendapatkan persenjataan,
baik sebelum baiat atau sesudahnya. Barat-Salibis juga senantiasa
melakukan intervensi di Suriah denganbarbagai tipu daya dan makar, baik
sebelum baiat maupun setelahnya. Serta Rafidhah-Nushairiyah yang kafir
senantiasa membunuh umat Islam, baik sebelum baiat ataupun setelahnya.
Jadi, apanya yang berubah, wahai kaumku?
Kita
telah jemu dengan pemikiran-pemikiran destruktif dan mental-mental
pecundang ini. Hampir seluruhnya berteriak, “Barat akan melakukan ini
... Barat tidak akan melakukan itu ...” Sedang ada persoalan yang
terlupakan, diremehkan, dan semakin hilang gaungnya, yaitu (persoalan)
“Apa peran kita?”, “Dimana senjata-senjata kita?”, “Mengapa kita tidak
menyuplai mujahidin dengan persenjataan?”, “Mengapa kita tidak bangkit
memerangi Nushairiyah?”, “Mengapa kita tidak melancarkan konspirasi pada
Barat sebagaimana yang telah dilakukan mereka pada kita?”, “Apakah kita
sudah berada pada perimbangan (kekuatan) ini?”, “Apakah kita
berkeyakinan bahwa Barat-Salibis akan mendukung umat Islam dan
(menyelesaikan) problematika-problematika mereka?”, “Apakah kita
berpikir bahwa Barat-Salibis akan menghentikan konspirasi mereka pada
kita meski hanya sebentar?”, “Apakah terlintas di benak kita bahwa
Rafidhah dan Nushairiyah akan menghentikan permusuhan mereka pada kita
meski hanya sesaat? Dan mereka akan menghargai tiap tetes darah kita
jika mereka menguasai kita?”
Saya
tegaskan secara jelas dan gamblang kepada para ulama, dai, dan
cendekiawan, “Baiat ini bukanlah ‘pelampung penyelamat’ buat Barat dan
Nushairah, namun merupakan ‘pelampung penyelamat’ untuk kita. Pantaskah
hal itu mengerutkan kita untuk menolong umat Islam dan orang-orang lemah
di Syam dengan jiwa kita, dan memalingkan kita untuk berhadapan dengan
pemerintah-pemerintah yang telah mengekang dan merongrong kita sehingga
membuat kita lemah?
Lantas saat tiba
sesuatu yang kita anggap ‘titik terang, kita –benar-benar lupa diri-
kemudian melontarkan cemoohan pada orang-orang yang bergegas berjihad fi sabilillah
dan menyambut seruan Allah.” Kehormatan apa yang masih tersisa di
wajah-wajah kita? Rasa malu apa yang masih kita miliki? Di satu sisi,
firman Allah mengingatkan bahwa kita adalah orang-orang yang kerdil,
tidak ikut berjihad, pembangkang, reda dengan kehinaan, serta terancam
dengan azab yang pedih. Sedang di sisi lain, (firman Allah juga)
memberitahukan kita bahwa mereka yang berjihad adalah orang-orang yang
mulia, mendapat pertolongan, diberikan petunjuk, serta dijanjikan dengan
kenikmatan yang abadi ...
Kita tidak
berusaha memperkuat posisi mereka. Kita tidak mempunyai rasa malu saat
mencela mereka. Kita juga tidak terdiam ketika kita reda berada bersama
orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang. Padahal kita adalah
orang yang dikenai kewajiban dan diperintahkan untuk menolong orang yang
telah menolong kita ... Lantas, dari dua kelompok tersebut, kelompok
mana yang lebih berhak mendapat celaan jika kalian memang orang yang
bijaksana?
Al-Qaidah telah ada di
Syam sebelum Revolusi Suriah terjadi. Mereka telah ikut menyingsingkan
lengan sejak dari awal (revolusi). Mereka tidak berada di luar kerangka
Islam. Mereka hanya keluar dari traktat perbatasan Sykes-Picot. Siapa
yang berkata bahwa hal itu termasuk ‘intervensi asing’, berarti dia
tidak memahami definisi umat Islam secara syar’i. Intervensi
asing adalah intervensi oleh selain umat Islam–seperti Barat-Salibis,
Arab yang murtad, dan non-Muslim. Adapun jika mereka umat Islam, maka
ini adalah kepentingan dan problematika mereka, serta merekalah yang
berhak atas demikian itu berdasarkan nash Al-Qur’an ...
Orang
yang meminta Barat-Salibis agar melakukan intervensi lebih utama
disematkan padanya ‘gelar’ (intervensi asing) tersebut. Adapun umat
Islam—terkhusus mujahidin—ini merupakan kepentingan internal khusus
mereka dan mereka memang diperintahkan Allah Azza wa Jalla
untuk melakukan intervensi dan menolong umat Islam. Siapa yang tidak
memahami masalah ini, hendaknya dia kembali mendalami akidahnya juga
(mendalami) Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya Shallahu ‘alaihi wa sallam.
Ini
sangat mengherankan! Bagaimana mungkin Anda bisa mengatakan pada
Al-Qaidah, “Jangan melakukan intervensi! Ini bukan urusan kalian.
Mengapa kalian ikut intervensi dalam urusan yang tidak ada kaitannya
dengan kalian?” Jika hal itu berkaitan dengan kepentingan kalian maka
mereka lebih lagi berkepentingan, karena ini adalah jihad sedang kalian
bukanlah mujahidin. Dan jika kalian tidak berkepentingan maka sudahlah.
Anda dapat meminta orang-orang kafir untuk mengintervensi urusan umat
Islam dan Anda bisa katakan pada mujahidin, “Janganlah kalian
mengintervensi!” Ini tidak masalah. Masalah sesungguhnya adalah bahwa
sebagian masyarakat begitu mengapresiasi ungkapan tersebut. Celakanya,
sebagian masyarakat cukup puas dengan (ungkapan tersebut). Sungguh, si
pandir akan begitu melelahkan orang yang berusaha mengobatinya.
Suatu
yang menyedihkan kami bahwa umat Islam di Suriah tidak pernah mengambil
pelajaran dari konspirasi dan makar ini. Sungguh, debu-debu penindasan
itulah yang menguji pengalaman Khalifah mereka, Mu’awiyah bin Abu
Sufyan. Di antara reruntuhan itulah kecerdikan Gubernur mereka, Amr bin
Al-Ash bersinar. Juga pada gemuruh irama meriam-meriam itulah keberanian
Kakek mereka, Khalid bin Al-Walid mencuat. Semoga Allah meridhai mereka
semua.
Segala pujian hanyalah milik
Allah yang telah menggagalkan tipu muslihat setan terhadap bumi Syam.
Setan lari terbirit-birit saat melihat para malaikat melindungi setiap
sudut-sudut negeri ini dengan sayap-sayapnya. Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla yang melindungi negeri ini beserta penduduknya.
Renungan…
Seorang wartawan, Abdul Bari bin Athwan dalam artikelnya yang berjudul ‘Bom Jabhah An-Nushrah Membingungkan Oposisi’ menulis,
“Dari
dua proyek fraksi-fraksi oposisi bersenjata menghadapi rezim Suriah
yang saling kontradiksi ini, kita diberikan dua pilihan:
Pertama,
proyek demokrasi yang menghendaki berdirinya negara sipil (demokrasi)
yang diatur berdasarkan undang-undang dan kotak-kotak suara serta
undang-undang konvensional sebagaimana yang diterapkan di negara-negara
demokrasi lain seperti Turki -bahkan Suriah sekarang ini- ditambah
dengan beberapa formalitas syariat Islam seperti yang terjadi di Mesir.
Kedua,
proyek Islam yang menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai dasar
undang-undang negara. Syariat dan hukum-hukum Islam merupakan
undang-undang dan rujukan pemerintahnya. Juga negara Islam Suriah ini
akan menjadi bagian dari Daulah Khilafah Islamiyah.”
Orang
ini bukan dari Al-Qaidah, bukan anggota Jabhah An-Nushrah, juga bukan
termasuk fundamentalis sebagaimana yang sering distempel masyarakat awam
saat ini. Bahkan dia hanya seorang wartawan Palestina yang menetap di
Inggris. Analisa tersebut lahir setelah dia mengamati dan meneliti
kondisi Suriah … Analisisnya memberikan suatu pelajaran berharga bagi
umat Islam secara umum, dan bagi pejuang yangada di Suriah secara
khusus. Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah dalam Kitab-Nya:
“Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut…” [An-Nisa: 76]
“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi ‘fitnah’ dan agama hanya bagi Allah…” [Al-Baqarah: 193].
Fitnah yang dimaksud di sini adalah kekufuran. Dalam salah satu hadits shahih, Nabi saw berkata pada Abdullah bin Amr bin Al-Ash, “Jika
engkau berperang dengan penuh kesabaran dan mengharap rida Allah, Allah
akan membangkitkanmu (bersama) orang-orang yang sabar dan mengharap
rida-Nya. Dan jika engkau berperang karena riya’ dan ingin memperbanyak
harta, Allah akan membangkitkanmu (bersama) orang-orang yang riya dan
memperbanyak harta. Wahai Abdullah bin ‘Amr! Apa pun niatmu ketika
berperang atau terbunuh, Allah akan membangkitkanmu sesuai dengan niatmu
tersebut.” [HR Abu Dawud].
Berpijak dari sini, kami menasihati:
Wahai
pejuang di Suriah! Jika Anda berperang atas nama demokrasi, negara
demokrasi, dan undang-undang konvensional-liberal, Allah akan
membangkitkan Anda sesuai dengan niat Anda. Dan jika Anda berperang demi
Al-Qur’an, syariat Islam, daulah Islam, dan demi menghidupkan kembali khilafah,
Allah akan membangkitkan Anda sesuai dengan niat Anda. Perang yang
kedua berada di jalan Allah, dan perang yang pertama berada di jalan
taghut.
Hidup di dunia ini hanya
sekali, kemudian disusul kehidupan abadi di akhirat. Pilihlah jalan
hidup Anda sendiri—dan(Allah) hanya memberikan suatu bebansesuai dengan
kemampuan Anda: yaitu terbunuh atau mati syahid. Nabi saw bersabda, “Siapa
yang berperang di bawah panji kesesatan, mengajak dan membela
mati-matian fanatisme, maka terbunuhnya seperti keadaan orang jahiliyah.” [HR Muslim dan An-Nasa’i].
Demokrasi,
negara sipil, dan undang-undang konvensional merupakan panji-panji
kesesatan yang tidak berpedoman dengan ajaran Islam. Sedang kebangsaan,
kedaerahan, kesukuan, dan nasionalisme adalah bentuk-bentuk fanatisme
jahiliah. Jika Anda berperang dan terbunuh demi membela bentuk-bentuk
fanatisme ini maka terbunuhnya Anda seperti keadaan orang-orang
jahiliah. Namun jika Anda berperang demi meninggikan kalimatullah, mengusir Nushairiyah, dan menjalankan syariat Islam di negeri tersebut maka Anda berada di jalan Allah.
Demi saling menasihati dan rasa kasih sayangku, saya katakan pada ikhwah
pejuang di negeri Syam, “Jabhah An-Nushrah dan aliansi-aliansinya
berperang demi dien. Sedang sebagian kelompok yang lain berperang demi
bangsa, pemerintahan, dan negera sipil thaghut yang tidak berhukum dengan syariat Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut …” [An-Nisaa’: 76].
Siapa
yang ingin termasuk ‘orang-orang beriman’ maka bergabunglah bersama
mereka (Jabhah An-Nushrah dan aliasni-aliansinya). Dan siapa yang ingin
termasuk ‘orang-orang kafir’ maka bergabunglah dengan kelompok yang
lain. Pilihan seseorang di dunia akan dia petik di akhirat kelak, “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” [Al-Muddatstsir: 38]
Wallahu a’lam. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan kesejahteraan kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikut-pengikutnya, serta sahabat-sahabatnya ..
Ditulis oleh
Husain bin Mahmud
17 Jumadal Akhirah 1434 H
Catatan Penutup
Perlu
dipahami bahwa perbedaan pendapat dan keputusan antara para pemimpin
umat bukanlah perkara baru. Para sahabat dahulu berbeda pendapat ketika
memilih seorang pengganti dalam kepemimpinan umat. Ketika Nabi saw
wafat, Umar bin Khaththab tidak sepakat dengan Abu Bakar yang memutuskan
untuk memerangi orang-orang murtad. Para sahabat juga berbeda pendapat
ketika Utsman terbunuh. Dan ini tidak mengurangi hak mereka sebagai
sahabat.
Poin yang perlu dicatat
dalam benak kita adalah bila perbedaan pendapat bisa terjadi di kalangan
manusia-manusia terbaik sepeninggal Nabi, maka terjadinya perbedaan
pendapat di kalangan pemimpin setelah mereka adalah perkara yang bisa
terjadi pula. Apalagi bila perbedaan itu masih dalam konteks ikhtilaf
yang bisa diterima. Itulah sebabnya, umat Islam tidak sepantasnya
terhasut oleh para pihak yang ingin memancing di air keruh dan
menyebarkan persangkaan-persangkaan yang tidak berdasar.Wallahu a’lam.